| Home |
| News |
| News Feeds |
| Links |
| Contact Us |
| Search |
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| sumber : http://www.klikbca.com | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Composite Index 2449.338 0.000 Quotes are delayed 15 minutes |
| Telekomunikasi Indonesia Tbk 8700 0.000 Quotes are delayed 15 minutes |
| Pentingnya Perencanaan Keuangan Usia Lanjut |
|
|
|
| Ditulis Oleh T.S. Lim | |
| Minggu, 23 Maret 2008 | |
|
DALAM kehidupan yang kian kompleks saat ini, tidak jarang masyarakat masih berpandangan bahwa memikirkan dan mengantisipasi hal-hal di masa mendatang merupakan sesuatu yang kurang penting. Sederhananya, masalah yang muncul di kemudian hari bisa dicarikan solusinya di kemudian hari pula.Dalam mengantisipasi kejadian tak terduga di masa depan yang berkonsekuensi pada munculnya biaya yang tidak sedikit,sebagian anggota masyarakat cenderung mengandalkan hubungan kekerabatan sebagai solusi untuk memecahkan masalah. Faktanya, skema asuransi jiwa semestinya bisa menjadi solusi bagi setiap keluarga dalam pengelolaan risiko keuangan manakala mereka berhadapan dengan permasalahan di masa mendatang. Perubahan paradigma Ketika sebuah keluarga harus mengeluarkan biaya besar untuk perawatan di rumah sakit,misalnya, masih banyak kalangan masyarakat yang hingga saat ini lebih berpikir untuk mengandalkan kerabat guna mengakomodasi kepentingan tersebut. Ini diperkuat dengan tingginya tenggang rasa di antara mereka sehingga kerabat yang lain pun umumnya bersedia memberikan pertolongan meski mereka mungkin sedang menghadapi kebutuhan keuangan yang tidak kalah penting. Sederhananya,bila musibah atau kemalangan muncul, masih ada kerabat dekat, saudara, paman, bibi, atau anggota keluarga lain yang bisa dilibatkan untuk mengatasi kesulitan keuangan. Tidak jarang, konsep gali lubang tutup lubang dengan melibatkan hubungan kekerabatan masih melekat dalam pandangan masyarakat kita. Kentalnya budaya kekerabatan juga tecermin dalam hal menyikapi pentingnya aspek kesehatan di usia lanjut.Banyak di antara masyarakat yang saat ini masuk dalam kategori orang tua belum mengikuti program asuransi kesehatan. Ketika mereka masih berusia produktif,mereka belum banyak berpikir tentang pentingnya berasuransi.Ada pemahaman yang berlaku di antara mereka untuk menggantungkan pemeliharaan kesehatan dan biaya yang muncul di masa tua kepada anak-anak mereka. Secara kultural,hubungan saling menolong dan menghormati antarkerabat memang merupakan satu poin positif jika ditinjau dari sisi terbangunnya budaya kekerabatan. Kendati demikian, kita juga perlu melihat sudut pandang lain, yakni semakin meningkatnya kebutuhan keuangan di setiap keluarga seiring dengan berjalannya waktu serta berkembangnya dinamika sosial dan budaya. Perjuangan hidup saat ini semakin sulit.Kondisi ini seyogianya bisa membukakan kesadaran bahwa setiap keluarga memiliki problematika dan kebutuhan keuangan masingmasing. Kalau beberapa tahun lalu banyak ibu rumah tangga yang tinggal di rumah dan menggantungkan penghidupan dari penghasilan suami,saat ini banyak di antara mereka yang bekerja demi terciptanya standar kehidupan keluarga yang memadai. Anak-anak pun terkondisi untuk mengurus diri sejak dini dan menjalani hari-hari bersama pengasuh di rumah.Kondisi ini menuntut seluruh anggota keluarga menjadi lebih independen. Ini bisa menjadi perenungan betapa setiap keluarga banyak berkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan keuangan masingmasing. Secara khusus,para tulang punggung keluarga yang saat ini berusia paruh baya seyogianya bisa melihat urgensi berasuransi demi kesejahteraan keluarga dan orang-orang yang dicintai.Keputusan untuk berasuransi saat ini bisa mengantisipasi munculnya biaya besar manakala anakanak kita nantinya menghadapi prosesi wisuda, memasuki pernikahan, serta menjamin kehidupan kita di hari tua meski tidak lagi memiliki penghasilan. Polis asuransi yang kita miliki saat ini akan berperan maksimal sebagai pengambil alih risiko finansial manakala berbagai kebutuhan keuangan yang besar muncul di masa tua. Itu sebabnya, hendaknya kita tidak lagi menggantungkan pembiayaan di hari tua nantinya dari pertolongan anak-anak.Semakin lanjut usia, kita semakin rentan terhadap penyakit. Kalaupun kita dikaruniai Tuhan dengan kesehatan dan umur panjang, berbagai aktivitas mungkin kurang mampu kita lakukan sendiri, misalnya makan-minum, mandi, ataupun berpakaian. Saat itulah kita memerlukan pengasuh atau perawat yang sudah tentu membutuhkan biaya secara rutin. Saat ini, aspek kesehatan menjadi satu kebutuhan yang sangat berharga bagi kita.Ketika seseorang bekerja puluhan tahun dan berhasil mengumpulkan uang tabungan dalam jumlah besar,uang sebanyak itu bisa habis dalam waktu singkat manakala yang bersangkutan mengidap penyakit kronis dan berkepanjangan. Kerja keras dan konsep hidup hemat menjadi kurang berarti karena uang yang dikumpulkan habis untuk biaya perawatan dan pemulihan kesehatan. Sebagai tulang punggung keluarga, kita sepatutnya memikirkan biaya perawatan kesehatan di masa mendatang.Saat ini,biaya perawatan, pengobatan, dan rawat inap di rumah sakit terus meningkat. Seiring bertambahnya usia, fungsi organ-organ tubuh mengalami penurunan dan rentan terhadap munculnya penyakit. Itu sebabnya, kita perlu menjaga kesehatan sejak dini dan mulai memikirkan biaya pemeliharaan kesehatan di usia tua. Konkretnya, segera perlengkapi diri dengan asuransi kesehatan demi kesejahteraan kita dan orangorang yang kita cintai. Pada edisi minggu depan, saya akan membahas skema asuransi perawatan jangka panjang (longterm care insurance),peruntukannya,dan aspek-aspek yang terakomodasi di dalamnya. Saya juga akan menyajikan tips bagi Anda untuk membeli produk tersebut dan gambaran biaya untuk mendapatkannya.(*) Eddy KA Berutu Sumber: Koran Sindo , Selasa, 18/03/2008 |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| StockWatch Indonesia News |
| Kompas.Com - Bisnis & Keuangan |